كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ ASWAJA TULEN menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Selasa, 04 September 2012

Salafi Sama Dengan Wahabi

Siapakah sebenarnya kelompok yang mengklaim sebagai ‘Salafi’ yang akhir-akhir ini mulai marak? Kelompok yang sekarang mengaku-aku sebagai Salafi ini, dahulu dikenal dengan nama Wahabi. Tidak ada perbedaan antara Salafi yang ini dengan Wahabi. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Satu dari sisi keyakinan dan padu dari segi pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan Wahhabiyah Hanbaliyah. Namun, ketika diekspor ke luar Saudi, mereka mengatasnamakan dirinya dengan ‘Salafi’, khususnya setelah bergabungnya Muhammad Nashiruddin al-Albani, yang mereka pandang sebagai ulama ahlihadis.3
Pada hakikatnya, mereka bukanlah Salafi atau para pengikut Salaf. Mereka lebih tepat jika disebut Salafi Wahabi, yakni pengikut Muhammad ibnu Abdul Wahab yang lahir di Uyainah, Najd, Saudi Arabia tahun 1115 Hijriah (1703 Masehi) dan wafat tahun 1206 Hijriah (1792 Masehi). Pendiri Wahabi ini sangat mengagumi Ibnu Taimiyah, seorang ulama kontroversial yang hidup di abad ke-8 Hijriyah dan banyak mempengaruhi cara berpikirnya (Lihat: Muhammad Abu Zahrah: Tarikh al-Mazhahib al-lslamiyah al-Fiqhiyah, Dar al-Fikr al-Arabi, Cairo, h. 232).
Wahabi berganti baju menjadi Salafi atau terkadang “Ahlussunnah” -yang seringnya tanpa diikuti dengan kata “wal Jamaah”-, karena mereka merasa risih dengan penisbatan tersebut dan mengalami banyak kegagalan dalam dakwahnya. Hal itu diungkapkan oleh Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al- Buthi dalam bukunya, as-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Madzhab Islami. Dia mengatakan bahwa, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan berganti nama menjadi “Salafi” karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan nama Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, yakni Muhammad ibnu Abdul Wahab.Apalagi, para ulama berhasil menguak borok dan penyimpangan Wahabi. Di antara para ulama yang telah membuka kedok Salafi Wahabi yaitu al-Allamah al-Kautsari, al-Allamah al-Qusyalri, Mufti Mesir; Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah, al-Muhaddtis Sayyid Muhammad al-’Alawi al-Maliki, Syaikh Hasan ibnu Ali Assegaf, Syaikh Ahmad al-Ghimari, Syaikh Abdullah al-Harari, dan Iain-Iain. Oleh karena itu, sebagian kaum muslimin menamakan mereka dengan Salafi Palsu atau Mutamaslif.

Untuk menarik simpati umat Islam, Wahabi berupaya mengusung platform dakwah yang sangat terpuji yaitu, memerangi syirik, penyembahan berhala, pengkultusan kuburan, dan membersihkan Islam dari bid’ah dan khurafat. Namun mereka salah kaprah dalam penerapannya, bahkan dapat dibilang, dalam banyak hal mereka telah keluar dari ajaran Islam itu sendiri. Persis seperti ungkapan Sayyidina Ali ketika menumpas kaum khawarij , “Qaul al-Haq yuradu bihi al-bathil” (kalimat yang benar tapi digunakan untuk kebathilan). Para sahabat nabi SAW, imam madzhab, ulama salaf, dan umat islam yang tidak sejalan dengan mereka dikafirkan bahkan tak segan mereka bunuh (Lihat: Aqidah ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, Hasan bin Ali as-Saqqaf , Dar al-Imam an-Nawawi cetakan pertama hal. 213).
Tidak ada satu pun riwayat shahih yang sampai kepada kita menerangkan bahwa ada di antara para sahabat Nabi Saw., ulama salaf dan imam mujtahid (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Ahmad ibnu Hanbal, Imam Tsauri dan lainnya) yang menyebut diri mereka dan para pengikutnya sebagai kelompok Salafi. Hingga para Imam ahli hadis sekalipun -seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan yang lainnya-, tidak ada yang menyebut dirinya sebagai Salafi.
Sebagai sebuah bahasa, kata “salaf’ -yang berarti pendahulu sudah lama muncul dalam khasanah perbendaharaan kata dalam agama Islam, bahkan sejak zaman Nabi Saw., tetapi tidak untuk arti “sekelompok orang yang memiliki keyakinan sama” atau sebuah mazhab dalam Islam. Sebagai contohnya, lihat saja misalkan ucapan salam yang diajarkan Nabi Saw. kepada umatnya saat berziarah kubur yaitu, “Assalamu’alaikum ya ahla al-qubur yaghfirullahu lana wa lakum antum salafuna wa nahnu bi al-atsar: keselamatan untuk kalian wahai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah para pendahulu kami, sedangkan kami nanti pasti akan menyusul.” (HR. Tirmidzi dan Thabarani bab Ma Yaqul ar-Rajul Idza Dakhal al-Maqabir 4/208 no. 975. Ath-Thabarani: al-Mu’jam al-Kabir bab 3, 10/254 no. 12447). Dalam hadis ini tertera kata “salaf’ yang artinya “para pendahulu”.
Adapun awal mula munculnya “Salafi” sebagai istilah adalah di Mesir, setelah usainya penjajahan Inggris. Tepat- nya, saat muncul gerakan pembaruan Islam (al-ishlah ad- dtni) yang dipimpin oleh Jamaluddin al-Afghani dan muridnya, Muhammad Abduh, di akhir abad ke-19 Masehi, yang dikenal dengan gerakan Pan Islamisme. Untuk menumbuhkan rasa patriotisme dan fanatik yang tinggi terhadap peijuangan umat Islam saat itu, di samping dalam rangka membendung pengaruh sekulerisme, penjajahan dan hegemoni Barat atas dunia Islam, Muhammad Abduh mengenalkan istilah “Salafi”.

Lalu, dari manakah munculnya istilah “Salafi” untuk menggelari orang yang mengklaim dirinya sebagai satu- satunya penerus ajaran as-salafu ash-shalih, yakni para sahabat, tabiln dan tabi’at-tabim? Yang jelas, bukan dari sahabat Nabi Saw., bukan dari para ulama salaf terdahulu, bahkan bukan pula dari para imam ahli hadis sekalipun. Nashiruddin al-Albani lah yang pertama kali mempopulerkan istilah ini, sebagaimana terekam dalam sebuah dialognya dengan salah satu pengikutnya, yaitu Abdul Halim Abu Syuqqah, pada bulan Juli 1999/Rabiul Akhir 1420 H (Lihat Majalah As-Sunnah edisi 06\IV\1420, h. 20-25.)
Seiring dengan kelihaiannya dalam ‘mengaduk-aduk’ hadis, Albani sebagai pendatang baru di ranah Wahabi, juga lihai dalam meracik nama baru untuk me-refresh dan meremajakan faham yang kian memiliki image negatif di dunia Islam itu. Dia sangat berjasa bagi kelanjutan dakwah Salafi Wahabi dengan ide istilah “salafi”-nya itu.
Yang patut direnungkan, bukankah penggunaan istilah seperti itu juga merupakan “hal baru dalam agama” alias bid’ah, suatu kata yang selalu mereka dengung-dengungkan dalam menghantam umat Islam?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar