كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ ASWAJA TULEN menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Minggu, 12 Agustus 2012

kisah seorang sahabat rosulullah : yaitu *** Zaid bin Tsabit, Penulis Wahyu dan Pencinta Ilmu ***


Ketika itu kaum Muslimin sedang sibuk menyiapkan angkatan perang untuk menghadapi Perang Badar. Rasulullah SAW tengah melakukan pemeriksaan terakhir terhada
p tentara Muslimin yang pertama-tama dibentuk, dan segera akan diberangkatkan di medan jihad di bawah komando beliau. Ketika Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia kurang dari tiga belas tahun datang menghadap beliau. Anak itu kelihatan cerdas, terampil, cermat, dan teliti. Di tangannya tergenggam sebuah pedang yang panjangnya melebihi tinggi badannya.

Dia berjalan tanpa ragu-ragu dan tanpa takut melewati barisan demi barisan menuju Rasulullah SAW. Begitu berada di depan Rasulullah, dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Engkau, wahai Rasulullah, izinkanlah saya pergi jihad bersama engkau, memerangi musuh-musuh Allah di bawah panji-panjimu.”

Rasulullah menengok anak itu dengan gembira dan takjub. Beliau menepuk-nepuk pundak anak itu tanda kasih dan simpati. Tetapi beliau menolak permintaan anak itu, karena usianya yang sangat muda. Anak itu pulang kembali membawa pedangnya, tergesek-gesek menyentuh tanah. Dia sedih dan kecewa, lantaran permintaannya untuk menyertai Rasulullah dalam peperangan pertama yang akan dihadapi beliau, ditolak.

Ternyata dari kejauhan ibu anak itu, Nuwar binti Malik, mengikuti dari belakang. Ia pun tak kalah sedihnya. Dia ingin melihat anaknya berjuang di bawah panji-panji Rasulullah. Dalam angan-angannya terbayang, alangkah bahagianya ayah anak itu sekiranya dia masih hidup, melihat anaknya dapat mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW, dan berjihad bersamanya.

Tetapi, anak Anshar yang cerdas dan pintar ini tidak lekas putus asa. Walaupun dia ditolak Rasulullah untuk menjadi prajurit karena usianya masih sangat muda, dia berpikir mencari jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan usia. Pikirannya yang tajam segera menemukan jalan. Jalan itu ialah bidang ilmu dan hafalan. Anak itu menyampaikan buah pikirannya kepada ibunya. Sang ibu menyambut gembira buah pikiran anaknya, dan segera merintis jalan untuk mewujudkannya. Nuwar memberi tahu beberapa orang famili tentang keinginan yang akan ditempuh anaknya. Mereka setuju, lalu pergi menemui Rasulullah.

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, ini anak kami. Dia hafal tujuh belas surah dari kitab Alquran. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Engkau. Di samping itu dia pandai pula membaca dan menulis Arab.”

“Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin berbakti kepada Engkau dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi Engkau selalu. Jika Engkau menghendaki silakan mendengarkan bacaannya.”

Rasulullah mendengarkan bacaan anak itu. Bacaannya ternyata memang bagus, betul dan fasih. Kalimat-kalimat Alquran bagaikan berkerlap-kerlip di bibirnya seperti bintang-gemintang di permukaan langit. Bacaannya menimbulkan pengaruh dan berkesan. Waqaf-waqaf (tanda-tanda baca seperti titik koma dan lain-lain) dilaluinya dengan tepat, menunjukakan dia paham dan mengerti dengan baik apa yang dibacanya. Rasulullah gembira karena apa yang dilihat dan didengarnya mengenai diri anak itu, ternyata melebihi apa yang dikatakan orang yang mengantarnya. Terlebih lagi, anak itu pandai pula membaca dan menulis.

Rasulullah menoleh kepadanya seraya berkata, “Jika engkau mau selalu dekat denganku, pelajarilah baca tulis bahasa Ibrani. Aku tidak percaya kepada orang Yahudi yang menguasai bahasa tersebut.”

Anak kecil itu menyanggupi. Dengan tekun ia mempelajari bahasa Ibrani. Karena kecemerlangan otaknya, dalam waktu singkat dia dapat menguasai bahasa tersebut dengan baik, berbicara, membaca dan menulis. Apabila Rasulullah hendak menulis surat kepada orang-orang Yahudi, dialah yang dipanggil beliau menjadi sekretaris. Bila beliau menerima surat dari mereka, dia pula yang disuruh membacanya. Kemudian, anak itu juga belajar tulis baca bahasa Suryani. Ia pun berhasil menguasai bahasa itu dalam tempo singkat, berbicara, membaca dan menulis, seperti penguasaannya terhadap bahasa Yahudi. Dan sejak usianya yang belia itu, ia dijadikan Rasulullah sebagai penerjemah kedua bahasa tersebut.

Siapakah anak cerdas yang beruntung menjadi Sekretaris Pribadi Rasulullah itu? Dialah Zaid bin Tsabit.

Zaid bin Tsabit tidak hanya tampil sebagai penerjemah, tapi ia juga menjadi penulis wahyu. Bila wahyu turun, Rasulullah memanggil Zaid, lalu dibacakan kepadanya dan disuruh menulis. Karena itu, Zaid bin Tsabit menulis Alquran didiktekan langsung oleh Rasulullah secara bertahap sesuai dengan turunnya ayat. Alhasil, dia menjadi orang pertama tempat umat Islam bertanya tentang Alquran sesudah Rasulullah wafat. Dia menjadi ketua kelompok yang ditugaskan menghimpun Alquran pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemudian, dia pula yang menjadi ketua tim penyusun mushaf di zaman pemerintahan Usman bin Affan. Di antara keutamaan yang dilimpahkan Alquran terhadap Zaid bin Tsabit, dia pernah memberikan jalan keluar suatu jalan buntu yang membingungkan orang-orang pandai pada hari Saqifah. Kaum Muslimin berbeda pendapat tentang pengganti (khalifah) Rasulullah sesudah beliau wafat.

Kaum Muhajirin berkata, “Pihak kami lebih berhak menjadi Khalifah.” Kata sebagian kaum Anshar, “Pihak kamilah yang lebih pantas.”

Kata sebagian yang lain, “Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk menyertainya.”

Karena perbedaan pendapat, hampir saja terjadi bencana di kalangan kaum Muslimin ketika itu. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring, belum dimakamkan. Hanya kalimat-kalimat mutiara yang bergemerlapan dengan sinar Alquran yang sanggup mengubur bencana itu, dan menyinari jalan buntu dengan sebuah solusi.

Kalimat-kalimat tersebut keluar dari mulut Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Dia berkata di hadapan kaumnya, orang-orang Anshar. “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin. Karena itu sepantasnyalah penggantinya orang Muhajirin pula."

"Kita adalah pembantu-pembantu (Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnya pulalah kita menjadi pembantu bagi pengganti (khalifah)-nya, sesudah beliau wafat, dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan agama.”

Sesudah berucap begitu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Shiddiq seraya berkata, “Inilah khalifah kalian. Baiatlah kalian dengannya!”

Keunggulan dan kedalaman pengertian Zaid bin Tsabit mengenai Alquran telah mengangkatnya menjadi penasihat kaum Muslimin. Para khalifah senantiasa bermusyawarah dengan Zaid dalam perkara-perkara sulit, dan masyarakat umum selalu minta fatwa dia tentang hal-hal yang musykil. Keunggulannya terutama tentang hukum warisan, karena belum ada di antara kaum Muslimin ketika itu yang lebih mahir membagi warisan selain daripada Zaid.

Umar bin Khathab pernah berpidato pada hari Jabiyah, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Alquran, datanglah kepada Zaid Bin Tsabit. Siapa yang hendak bertanya tentang fikih, temuilah Mu’adz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya tentang harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya.”

Para pencari ilmu yang terdiri dari para sahabat dan tabi’in, mengerti benar ketinggian ilmu Zaid bin Tsabit. Karena itu, mereka sangat hormat dan memuliakannya, mengingat ilmu yang bersarang di dadanya adalah ilmu Alquran.

Seorang sahabat lautan ilmu pula, yaitu Abdullah bin Abbas, pernah melihat Zaid bin Tsabit direpotkan hewan yang sedang dikendarainya.

Lalu Abdullah berdiri di hadapan kendaraan itu dan memegang talinya supaya tenang. Kata Zaid bin Tsabit kepada Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), “Biarkan saja hewan itu, wahai anak paman Rasulullah!”

“Beginilah kami diperintahkan Rasulullah menghormati ulama kami,” jawab Ibnu Abbas.

Kata Zaid, “Coba perlihatkan tanganmu kepadaku!”

Ibnu Abbas mengulurkan tangannya kepada Zaid. Ia memegang tangan Ibnu Abbas lalu menciumnya. Kata Zaid, “Begitulah caranya kami diperintah Rasulullah SAW menghormati keluarga nabi kami.”

Tatkala Zaid bin Tsabit berpulang ke Rahmatullah, kaum Muslimin sedih karena pelita ilmu yang menyala telah padam. Abu Hurairah berkata, “Telah meninggal samudera ilmu umat ini. Semoga Allah menggantinya dengan Ibnu Abbas.”

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Zaid bin Tsabit. Amin...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar