كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ ASWAJA TULEN menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Selasa, 14 Agustus 2012

IBNU ABDUL WAHAB Keliru Dalam Menerapkan Kata MUSYRIK...

Ibnu Abdul Wahab sering melabelkan dan menjuluki umat Islam yang tidak setuju dengan fahamnya sebagai orang-orang kafir. Terlalu banyak firman-firman Allah yang ditujukan bagi orang kafir tapi dia tujukan untuk orang Islam. Dalam pandangan dia, orang Islam tersebut sama dengan orang kafir. Sebagai contoh, dalam bukunya Kasyfu asy- Syubuhat, halaman 39 dia menyatakan:

ويصيحون فيه كما صاح إخوانهم حيث قالوا : (( اجعل الآلهة إلهاً واحداً إن هذا لشيء عجاب )) صورة ص آية : 5

Mereka (yang dimaksud dengan ‘mereka’ oleh Ibnu Abdul Wahab adalah umat Islam yang tidak setuju dengan fahamnya-pen.) berteriak sebagaimana saudara-saudara mereka (orang kafir) berteriak dengan mengatakan: “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu hanya satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan (QS. Shaad [38]: 5) (Muhammad ibnu Abdul Wahab: Kasyf asy-Syubuhat, h. 39)

Secara tegas dan terang-terangan Muhammad ibnu Abdul Wahab menerapkan kata “musyrik” dalam Al-Qur’an yang seharusnya untuk orang-orang kafir Quraisy, tapi dia terapkan untuk orang-orang Islam yang bersyahadat, shalat, puasa, zakat dan mengeijakan haji. Lihat juga pemyataannya yang lain dalam Ad-Durar as-Saniyyah ketika dia menafsirkan kata “musyrik” dalam surat at-Taubah ayat 5:

Syaikh Muhammad ibnu Abdul Wahab -semoga Allah mensucikan ruhnya- berkata, “Ketauhilah, semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda untuk beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman dalam kitab-Nya: “Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka.? (QS.at-Taubah [9] :5). Perhatikanlah firman Allah ini, sesungguhnya Allah memerintahkan untuk membunuh, mengepung, mengintai mereka, sampai mereka bertaubat dari kemusyrikan, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. …Orang-orang bodoh yang disebut sebagai ulama menyelisihi kenyataan itu dengan mengatakan, ‘Siapa saja yang berkata tidak ada tuhan selain Allah, maka dia muslim, haram (terjaga) darah dan hartanya:.” (Muhammad ibnu Abdul Wahab, dkk: Ad-Durar as-Saniyyah , op.cit, jilid 9, h.237)

Bahkan, secara langsung dia telah menuduh umat Islam di zamannya tidak mengenal Tuhan mereka dan telah menyembah berhala. Dengan alasan ini dia ingin menghalalkan darah, harta dan kehormatan umat Islam yang dia anggap musyrik atau kafir. Inilah bentuk pengkafiran yang nyata. Dalam bukunya Ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyah jilid 1, halaman 117, dia menyatakan:

“Orang-orang zaman sekarang ini banyak yang tidak mengenal Tuhan yang harus disembah. Melainkan, (mereka telah menyembah) Hubal, Yaghus, Ya’uq, Nasr, al-Lata, al-Uzza dan Manat. Jika pemahaman mereka lurus,, caya mereka akan mengetahui bahwa kedudukan benda- benda yang mereka sembah itu, semisal manusia, pohon, batu dan sebagainya itu, tidak ubahnya seperti menyembah matahari, rembulan, Idris, dan Abu Hadidah.”(Ibid, op.cit, jilid 1 h. 117)

Ternyata, berita bahwa Muhammad ibnu Abdul Wahab mengkafirkan umat Islam yang bersyahadat, shalat, zakat, puasa dan berhaji, bukanlah isapan jempol belaka. Padahal, Nabi Saw. telah mewanti-wanti umatnya:

لا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلا بِالْفِسْقِ وَلا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ ، إِلا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Janganlah seseorang menuduh orang lain fasik atau kafir, karena itu akan kembali kepada dirinya sendiri jika itu tidak terbukti.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Baihaqi) [Shahih al-Bukhari: bab Ma Yunha min as-Sibab 18/476 no. 5585. Shahih Muslim: bab Bayan h. Iman Man Qala li Akhih 1/195 no: 92." Musnad : Ahmad; bab Hadis Abu Dzar al-Ghifari 44/56 ho. 20590. al-Baihaqi: Syu'ab al-lman, bab Fashl fi ma Warada min al-Akhbar 14/178 no. 6388]

أيما رجل قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما

“Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya (yang seiman), ‘Hai kafir’ maka ucapan itu akan menimpa salah satunya. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya).

ومن رمى مؤمنابكفر فهو كقتله

“Barangsiapa yang menuduh orang beriman sebagai kafir, maka dia seperti membunuhnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Thabarani dan Baihaqi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar