كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ ASWAJA TULEN menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Rabu, 22 Agustus 2012

Antara Syari’at dan Thariqah

Tanya Jawab Bersama Habib Luthfi bin Yahya
Puji syukur kepada Allah swt atas nikmat, rahmat, taufik , dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, keluarga beserta para sahabatnya dan juga pula semoga rahmat serta inayah-Nya  tercurah kepada al-Habib Luthfi bin Yahya beserta keluarga.
Habib, saya sering mendengar kata syari’at dan  thariqah, tetapi saya belum begitu faham apa artinya. Saya mohon, Habib berkenan menjelaskannya. (M. Riyadi, 1 Tegal, Jawa Tengah).
al-Habib Luthfi bin Yahya ra menjawab: “Syari’at dan thariqah itu tidak bisa dipisahkan. Berthariqah tapi ia menginggalkan syari’at, tidaklah benar. Karena thariqah adalah buah dari syari’at atau orang yang mengambil jalan thariqah harus melalui pintu syari’at.

Syari’at mengatur kehidupan kita, mulai dari masalah , akidah hingga masalah ibadah. Mulai dari masalah keimanan kepada Allah swt, malaikat, Kitab-kitab Allah swt, para nabi dan rasul, hari akhir, hingga masalah takdir.
Dari syari’at pula kita mengetahui Rukun Islam, yaitu syahadatain, shalat, puasa, zakat dan haji, hingga keutamaan shalat, serta hubungan antara manusia, seperti jual-beli, pernikahan dan lain sebagainya.
Setelah menjalankan syari’at dengan baik, barulah kita berthariqah. Tujuan berthariqah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Sedangkan untuk berthariqah, seseorang perlu bimbingan seorang mursyid. Sebab, mursyid inilah yang akan mengenalkan seorang murid kepada Allah swt sampai ia dekat dan disayang Allah swt.
Yang dituntut oleh thariqah sendiri adalah perilaku mulia para pengikutnya. Ia harus berusaha membersihkan kotoran- kotoran yang ada didalam dirinya, terutama hatinya. Dengan kebersihan hati, lahir maupun batin, seseorang bisa mendekatkan diri kepada Allah swt.
Sebagai oontoh adalah berwudhu.’ Ketahuilah, bahwa berwudhu’ merupakan salah satu cara bersuci menurut syari’at Islam. Biasanya kita berwudhu’ hanya untuk mendapatkan keutamaan wudhu,’ serta berbagai syarat untukmenjalankan shalat.
Sedangkan thariqah menuntut buah dari berwudhu.’ Ketahuilah bahwa berwudhu’ tidak hanya membersihkan kotoran lahiriah kita, tetapi pada hakekatnya juga membersihkan kotoran batiniah.
al-Qur’an menyebutkan bahwa shalat mencegah dari kemunkaran dan kerusakan, karena kita sudah memahami makna wudhu’ dan shalat itu secara tarekat. Untuk mendapatkan buah berrwudhu,’ kita harus mengerti arti wudhu.’ Dan untuk mendapat pengertian ini, kita harus mendapatkan bimbingan dari seorang guru.
Jika sudah mengetahui buah berwudhu,’ kita harus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja, kita membersihkan muka, maka kita harus lebih bisa menjaga diri dari perilaku sombong, kita harus lebih rendah hati, lebih tawadhu’ dan lebih beradab.
Dengan menjaga perilaku tersebut, kita akan mudah mendekatkan diri kepada Allah swt. Dihadapan-Nya kita harus semakin menundukkan kepala. Semua yang ada pada diri kita adalah pemberian-Nya semata.
Begitu pula terhadap junjungan kita, Baginda Nabi Muhammad saw. Atas limpahan rahmat-Nya lah kita menjadi pengikutnya yang setia. Untuk itulah, kita selalu memuji Rasululah saw, dengan tujuan supaya kita lebih dekat kepada Baginda Rasulullah sw. Dengan begitu, sosok Baginda Rasulullah saw akan menjadi idola bagi kita dalam menapaki semua lini kehidupan hingga akhir hayat.
Sikap tawadhu’ ini pun harus kita tunjukkan ketika berhadapan dengan para wali, ulama dan guru-guru kita yang telah memberikan pemahaman tentang kebenaran syari’at Islam dan thariqah.
Begitu pula ketika kita membasuh kedua tangan. Yang kita basuh bukan hanya tangan secara lahir, tapi juga batin. Ini akan mencegah tangan kita dari berbuat maksiat. Kita akan selalu merasa diperingankan untuk tidak mengambil yang bukan hak kita, sebab tangan kita sudah disucikan setiap hari.
Lalu saat membasuh telinga. Buah dari membasuh telinga, kita akan berusaha untuk menjaga pendengaran kita dari segala scsuatu yang tidak baik. Kita tidak akan menyampaikan yang kita dengan kalau informasi itu justru akan memancing masalah itu memanaskan situasi sehingga menimbulkan pecah-belah dan kekacauan. Tentu saja, itu juga berlaku bagi mata kita, kedua kaki kita dan anggota badan lainnva.
Bagi para murid yang ingin berthariqah, saya anjurkan mulailah dari seorang guru yang dipercaya. Tapi sebaliknya, bagi guru vang ingin ditaati muridnya, cobalah didiklah para murid itu menjadi seperti, timba yang mendekati sumurnya, bukan sumur mendekati timbanya. Dengan begitu, terbentuklah kewibawaan guru terhadap muridnya.
Bagi murid, saya anjurkan untuk belajar kepada satu guru, Kalau pada organisasi, jangan sekadar melihat organisasi itu besar. Meski organisasi tarekatnya kecil, kalau lebih berpengaruh terhadap jiwa kita sehingga lebih mendekatkan diri kepada Allah swt, maka tidak perlu ragu untuk mengikutinya.” ***
*) Dikutip oleh Tim SARKUB.COM dari Buku Habib Lutfhi Berbicara Seputar Tarekat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar