كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ ASWAJA TULEN menyajikan artikel-artikel faktual sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi demi kelestarian aswaja di belahan bumi manapun Terimakasih atas kunjungannya semoga semua artikel di blog ini dapat bermanfaat untuk mempererat ukhwuah islamiyah antar aswaja dan jangan lupa kembali lagi yah

Senin, 13 Agustus 2012

AJARAN ISLAM YANG BENAR.


Sebagaimana kita ketahui bahwa ajaran dari agama Islam itu terdiri dari tiga macam, yaitu:
  1. Ajaran tentang Islam, yang dipergunakan untuk membimbing manusia selaku makhluk yang memiliki nafsu (homo animale).
  2. Ajaran tentang Imam, yang dipergunakan untuk membimbing manusia selaku makhluk yang memiliki akal fikiran (homo rationale).
  3. Ajaran tentang Ihsan, yang dipergunakan untuk membimbing manusia selaku makhluk yang memiliki budi pekerti, atau hati nurani, atau sarirah, atau 'ainul bashirah (homo somatica)
Ketiga ajaran agama Islam tersebut, yaitu: Imam, Islam dan Ihsan, disebut sebagai Risalah Islamiyah atau Fithrah Munazzalah. Sedang ketiga unsur jiwa manusia tersebut, yaitu: nafsu, akal fikiran dan hati nurani, disebut sebagai Fithrah Mukhallaqah.
Faham atau aliran Aswaja, dalam bidang:
  1. Keimanan, mengikuti faham yang dirumuskan oleh Imam Abul Hasan Al Asy'ari, atau Imam Abu Mansur Al Maturidi.
  2. Fiqih, mengikuti salah satu dari madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali.
  3. Akhlaq/tasawwuf, mengikuti faham yang dirumuskan oleh Imam Junaid Al Baghdadi dan Imam Al Ghozali serta orang-orang yang sefaham dengan kedua beliau.
Tujuan utama dari Risalah Islamiyah itu adalah untuk membentuk Insan Kamil, yaitu manusia yang seluruh aspek hidup dan kehidupannya telah dijiwai oleh ketiga ajaran agama Islam. Untuk itu setiap muslim dituntut untuk melakukan peningkatan dalam ketiga bidang ajaran agama Islam tersebut, baik dari segi kwantitas maupun dari segi kwalitas.
Peningkatan imam dari segi kwantitas, ialah dengan jalan mengamalkan cabang-cabang iman sebanyak 77 cabang, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh para ahli hadits sebagai berikut:
اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً ، اَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَاَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ . رَوَاهُ الْمُحَدِّثُوْنَ .
Iman itu tujuh puluh tujuh cabangnya. Cabang yang paling utama adalah mengucapkan kalimah "Laa ilaaha illallaah" dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan. Dan malu berbuat maksiat adalah salah satu cabang dari iman. (H.R. para ahli hadits)
Ketujuh puluh tujuh cabang iman tersebut dituturkan oleh Syeikh Zainuddin bin Ali dalam kitab Syu'abul Iman sebagai berikut:
  1. Beriman kepada Allah.
  2. Beriman kepada para malaikat.
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah.
  4. Beriman kepada para nabi.
  5. Beriman kepada hari kiamat.
  6. Beriman kepada kepada kebangkitan orang yang sudah mati.
  7. Beriman kepada qadar.
  8. Beriman bahwa para makhluk semuanya sesudah dibangkitkan dari kubur, akan digiring ke padang mahsyar, yaitu tempat pemberhentian mereka di hari kiamat.
  9. Beriman bahwa sesungguhnya surga itu adalah tempat tinggal yang kekal bagi orang muslim.
  10. Mencintai Allah ta'ala.
  11. Takut kepada siksa Allah.
  12. Mengharap rahmat Allah ta'ala.
  13. Tawakkal.
  14. Mencintai Nabi Muhammad saw.
  15. Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw.
  16. Bakhil dengan agama Islam.
  17. Mencari ilmu;
  18. Menyebarkan ilmu agama Islam.
  19. Mengagungkan dan menghormati Al Qur'an.
  20. Bersuci.
  21. Menunaikan shalat lima waktu dengan sempurna.
  22. Memberikan zakat kepada yang berhak menerimanya dengan niat yang khusus.
  23. Berpuasa pada bulan Ramadlan.
  24. I'tikaf.
  25. Menunaikan ibadah haji.
  26. Berjuang membela agama.
  27. Mempertahankan garis demarkasi.
  28. Tetap dalam memerangi musuh dan tidak lari dari medan pertempuran.
  29. Memberikan seperlima dari harta rampasan perang.
  30. Memerdekakan budak yang mu'min.
  31. Membayar kafarat.
  32. Memenuhi janji.
  33. Bersyukur.
  34. Menjaga lidah dari omongan yang tidak pantas.
  35. Menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.
  36. Menunaikan amanat kepada yang berhak.
  37. Meninggalkan membunuh orang muslim.
  38. Menjaga diri dari makanan dan minuman yang diharamkan.
  39. Menjaga diri dari harta yang haram.
  40. Menjaga diri dari pakaian, perhiasan dan tempat (bejana) yang diharamkan.
  41. Menjaga diri dari permaianan-permainan yang dilarang.
  42. Sederhana dalam membelanjakan harta.
  43. Meninggalkan dendam dan hasud.
  44. Melarang mencela orang-orang muslim, baik di hadapan mereka atau tidak.
  45. Ikhlas dalam beramal karena Allah ta'ala.
  46. Senang sebab ta'at, susah sebab kehilangan ta'at dan menyesal sebab maksiat.
  47. Bertaubat.
  48. Menyembelih kurban, aqiqah dan hadiah.
  49. Ta'at kepada ulil amri, mengenai perintah mereka yang berjalan menurut kaidah-kaidah syara', demikian pula ta'at kepada larangan mereka yang sesuai dengan kaidah-kaidah syara'.
  50. Berpegang teguh pada apa yang telah disepakati jama'ah.
  51. Menghukumi manusia dengan adil.
  52. Menyuruh perkara yang telah diketahui kebaikannya dan melarang parkara yang mungkar.
  53. Saling membantu dalam kebajikan dan ketaqwaan.
  54. Malu kepada Allah.
  55. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
  56. Silatur rahim.
  57. Berbudi pekerti yang baik.
  58. Berbuat baik kepada budak belian.
  59. Ketaatan budak kepada majikannya.
  60. Menjaga hak isteri dan anak-anak.
  61. Menyintai ahli agama.
  62. Menjawab salam dari orang-orang muslim.
  63. Mengunjungi orang yang sakit.
  64. Menyalati mmayit yang muslim.
  65. Membacakan "tasymit" kepada orang yang bersin yang membaca "hamdalah".
  66. Menjauhi setiap orang yang berbuat kerusakan.
  67. Memuliakan tetangga.
  68. Memuliakan tamu.
  69. Menutupi cacat orang-orang muslim.
  70. Sabar dalam menjalankan keta'atan sehingga dapat melaksanakannya.
  71. Zuhud.
  72. Cemburu dan tidak membiarkan isterinya bercumbu rayu dengan laki-laki lain.
  73. Berpaling dari omongan yang tidak berguna.
  74. Dermawan.
  75. Menghormati orang tua dan menyayangi anak muda.
  76. Mendamaikan pertikaian yang ada di antara orang-orang muslim.
  77. Mencintai untuk orang lain apa saja yang dicintai untuk dirinya sendiri.
Sedang meningkatkan kwalitas iman, adalah berusaha meningkatkan iman dari 'ilmul yaqin, menjadi 'ainul yaqin dan terakhir menjadi haqqul yaqin.

Meningkatkan amal Islam dari segi kwantitas harus dilakukan dengan jalan mem-perbanyak jumlah amal ibadah yang dikerjakan dan berusaha untuk menjalankannya dengan istiqamah. Sedang meningkatkan amal Islam dari segi kwalitas harus dilakukan dengan jalan melakukan amal ibadah karena takut kepada siksa Allah, menjadi karena mengharapkan sorga Allah, dan terakhir karena semata-mata ingin mendekat-kan diri kepada Allah.
Meningkatkan amal Ihsan dari segi kwantitas, harus dilakukana dengan jalan mem-bersihkan hati dari akhlak-akhlak yang tersela yang induknya oleh Imam Al Ghazali disebutkan sebanyak 10, kemudian menghiasi hatinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji yang induknya oleh Imam Al Ghazali disebutkan sebanyak 10.
Sepuluh induk akhlak tercela:
  1. Tamak terhadap makanan
  2. Tamak kepada omongan
  3. Suka marah
  4. Hasud
  5. Bakhil dan senang harta
  6. Ambisi dan gila hormat
  7. Senang dunia
  8. Ujub atau membanggakan diri
  9. Takabur
  10. Riya' atau mencari simpati dari selain Allah dengan amal ibadah

    Sepuluh induk akhlak terpuji:
  11. Bertaubat
  12. Khauf dan raja'
  13. Zuhud
  14. Sabar
  15. Syukur
  16. Ikhlas dan jujur
  17. Tawakkal
  18. Cinta kepada Allah
  19. Rela kepada ketentuan Allah
  20. Selalu mengingat mati dan hakekatnya
    Sedang meningkatkan amal Ihsan dari segi kualitas adalah berusaha meningkatkan diri dari tingkat orang awam menjadi orang shalih. Dari tingkat orang shalih menjadi orang yang bertaqwa. Dari orang yang bertaqwa menjadi orang yang mencintai Allah. Dari orang yang mencintai Allah menjadi ahli ma'rifat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar